STRATEGIES FOR UTILIZING OF LOCAL FOOD POTENTIAL TO SUPPORT THE FREE NUTRITIONAL MEAL (MBG) PROGRAM IN CENTRAL JAVA
Abstrak
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyebabkan peningkatan permintaan terhadap bahan pangan, seperti beras, daging ayam, ikan, telur, buah, dan sayur yang perlu dibarengi peningkatan pasokan. Jawa Tengah memiliki potensi lokal pertanian dan peternakan yang dapat mendukung pemenuhan bahan baku MBG, yang setidaknya akan dibangun 3.228 Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Jawa Tengah. Temuan riset BRIDA Provinsi Jawa Tengah (2025) menunjukkan kecenderungan pemenuhan kebutuhan MBG dari bahan baku lokal belum tercapai. Masalah harga, kuantitas, kualitas dan kontinuitas bahan menjadi pertimbangan SPPG dalam mengambil pasokan bahan baku. Setidaknya terdapat dua pola utama rantai pasok yang diterapkan oleh SPPG, yaitu sistem tertutup (1 SPPG dengan 1 supplier tetap) dan sistem terbuka (1 SPPG dengan beberapa supplier atau petani). Temuan lapangan mengindikasikan bahwa rantai pasok bahan baku cenderung mengikuti pola pasar yang berlaku, dimana SPPG dan supplier mengutamakan margin harga sesuai kualitas yang dipersyaratkan. Di sisi lain produsen lokal belum sepenuhnya mendapatkan tempat dalam program ini. Kapasitas produksi yang kecil dan terfragmentasi, kualitas yang kurang sesuai, kontinuitas yang belum tercapai, serta harga yang belum bersaing menyebabkan petani atau produsen lokal belum banyak berperan. Para petani lokal memiliki keterbatasan modal dan akses, bahkan sebagian besar mereka belum mengetahui bagaimana menjadi pemasok untuk MBG. Oleh sebab itu, terdapat beberapa rekomendasi yang ditawarkan berupa: 1) Pada sisi kebijakan perlu komitmen regulasi penggunaan bahan lokal; sistem data bahan pangan berbasis geospasial; pengawasan rantai pasok; serta integrasi dengan program lain (kawasan pedesaan, integrated farming, Koperasi Merah Putih; 2) Pada ranah produksi perlu dibentuk klaster produksi dan korporasi petani terintegrasi; kontrak farming petani dan SPPG; pelatihan dan pendampingan produksi sesuai standar; pembiayaan untuk petani; inovasi food processing; 3) Pada sisi distribusi diperlukan pengembangan pusat logistik pangan daerah dan cold storage; sistem e-logistics dan tracking supply chain; sistem pemenuhan kebutuhan SPPG terjadwal; penguatan kemitraan SPPG–koperasi–petani; 4) Pada sisi hilir perlu dibangun sistem informasi kebutuhan bahan yang bisa dipenuhi produsen lokal (digital food management system untuk perencanaan dan pengadaan); fasilitas pengolahan dan pelatihan SDM; serta pemilihan menu memperhatikan kearifan lokal dan potensi bahan baku.
Referensi
Chopra, S. (2019). Supply Chain Management: Strategy, Planning, and Operation (7th ed., Global Edition). Harlow, England: Pearson Education Limited.
Detik.com. (2 Januari 2025). Program Makan Bergizi Gratis Diprediksi Picu Inflasi. Diakses di: https://www.detik.com/bali/bisnis/d-7715037/program-makan-bergizi-gratis-diprediksi-picu-inflasi
Emerson, K., Nabatchi, T., & Balogh, S. (2012). An Integrative Framework for Collaborative Governance. Journal of Public Administration Research and Theory, 22(1), 1–29.
Marsden, T., Banks, J., & Bristow, G. (2000). Food Supply Chain Approaches: Exploring their Role in Rural Development. Sociologia Ruralis, 40(4), 424–438.
North, D. C. (1990). Institutions, Institutional Change, and Economic Performance. Cambridge University Press.
Ostrom, E. (2005). Understanding Institutional Diversity. Princeton University Press.
Sutrisno, D. A. (2022). Kebijakan Sistem Ketahanan Pangan Daerah. Kebijakan: Jurnal Ilmu Administrasi.
Tempo.co. (26 Oktober 2024). Ekonom Sebut Makan Bergizi Gratis Bisa Saja Sebabkan Inflasi Harga Pangan. Diakses di: https://www.tempo.co/ekonomi/ekonom-sebut-makan-bergizi-gratis-bisa-saja-sebabkan-inflasi-harga-pangan-1160052
Suharjito, Machfud, Haryanto B, Sukardi, Marimin. 2011. Pemodelan optimasi mitigasi risiko rantai pasok produk/komoditas jagung. Agritech. 31 (3): 215-227