Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD <p>Jurnal Ilmiah Analisis Kebijakan Pembangunan Daerah&nbsp;ini berisi karya ilmiah berupa Policy Paper dan Policy Brief dari para Analis Kebijakan Publik, Periset, Perencana, Akademisi, maupun praktisi Analis Kebijakan Publik. Isu yang ditampung dalam jurnal ini ialah masalah-maslah terkait dengan kebijakan pembangunan daerah.</p> en-US bridajawatengah@gmail.com (Okki Chandra Ambarwati) setnovan2@gmail.com (Novan S) Thu, 05 Mar 2026 00:00:00 +0000 OJS 3.1.2.0 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 OPTIMALISASI PEMANFAATAN ASET DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH: Solusi Kemandirian Fiskal https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1514 <p>Provinsi Jawa Tengah memiliki aset daerah dalam jumlah besar, terutama meliputi tanah dan bangunan serta aset lainnya. Aset tersebut memiliki potensi menghasilkan pendapatan daerah guna memperkuat kapasitas fiskal daerah serta meningkatkan kemanfaatan bagi masyarakat. Namun, sebagian besar aset belum dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung kapasitas fiskal daerah maupun kesejahteraan masyarakat. Pencatatan aset atau inventarisasi aset yang kurang tertata sebagai salah satu penyebab kurang optimalnya pemanfaatan aset daerah. Masalah lainnya adalah masih terbatasnya manajemen pengelolaan aset daerah dan pemanfaatan aset tersebut. Berdasarkan analisis tentang efektivitas dan efisiensi aset Provinsi Jawa Tengah, dapat direkomendasikan perlunya inventarisasi aset yang dimiliki Jawa Tengah, perlunya sinkronisasi data antara BPKAD dan Bapenda Jawa Tengah dan perlunya integrasi sistem pengelolaan, serta strategi baru dalam hal pemanfaatan aset.</p> Arif Sofianto, Hastarini Dwi Atmanti, Herlina Kurniawati , Tri Risandewi , Tri Susilowati, Setyo Aji Wijayanto Copyright (c) 2026 Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1514 Fri, 06 Mar 2026 01:16:08 +0000 KEBERLANJUTAN SISTEM PERTANIAN TERPADU DI JAWA TENGAH: Bagaimana strategi dan kolaborasinya? https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1524 <p class="Default" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"><span lang="EN-US" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: windowtext;">Pertanian Jawa Tengah menyumbang 13,60% terhadap PDRB Jawa Tengah pada tahun 2020 - 2024. Di sisi lain, pertanian menghadapi tantangan serius seperti degradasi lahan, perubahan iklim, ketergantungan pada input kimia, rantai pasok yang panjang, kepemilikan lahan kecil, krisis regenerasi petani sulit, dan rendahnya nilai tukar petani. <em>Integrated Farming System</em> (IFS) hadir sebagai solusi inovatif menuju pertanian berkelanjutan, dengan mengintegrasikan tanaman, ternak, perikanan, dan komponen lain secara efisien menuju zero-waste dan meningkatkan pendapatan petani. Pendekatan IFS selaras dengan target <em>Sustainable Development Goals</em> (SDGs) pada tujuan 2 (Tanpa Kelaparan) dan 12 (Konsumsi dan Produksi Bertanggung Jawab), serta Program Aksi Gubernur Jawa Tengah, serta arah kebijakan jangka panjang “Jawa Tengah sebagai penumpu pangan dan industri nasional”. Hasil kajian BRIDA Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2024 mengidentifikasikan faktor pendorong implementasi IFS yang berkelanjutan adalah kesadaran masyarakat terkait pentingnya keberlanjutan lingkungan, keterlibatan aktif masyarakat, komitmen, transparansi kelembagaan, dan dukungan pemerintah. Namun demikian, keberlanjutan IFS terkendala aspek hilirisasi (diversifikasi produk olahan yang minim), kelangkaan input produksi, penerapan teknologi modern yang belum optimal, serta keterbatasan modal dan akses rantai pasok serta pasar. Diperlukan komitmen lintas sektor dan dukungan pemerintah agar IFS berkembang menjadi model unggulan pertanian berkelanjutan di Jawa Tengah.</span></p> Arif Sofianto, Tri Risandewi , Edi Wahyono, Tri Susilowati, Komalawati Komalawati , Eny Hari Widowati, Lita Febrian, Setyo Aji Wijayanto Copyright (c) 2026 Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1524 Fri, 06 Mar 2026 03:39:21 +0000 RUANG EKSPRESI SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL: Tantangan Eksistensi dan Regenerasi https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1516 <p class="Default" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"><span lang="EN-US" style="font-size: 10.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: windowtext;">Ruang ekspresi (fisik maupun non fisik) merupakan salah satu strategi penting dalam pemajuan kebudayaan, terutama seni pertunjukan tradisional. Keberadaan ruang ekspresi berperan erat dengan eksistensi seni pertunjukan tradisional. Hal tersebut dapat dilihat dari keberadaan seni, keberadaan pelaku seni, dan keberadaan penikmat seni di sekitar ruang ekspresi. Penciptaan ruang ekspresi oleh pemerintah daerah berupa penyelenggaraan festival dan acara budaya secara rutin, selaras dengan upaya untuk menjaga eksistensi seni pertunjukan tradisional untuk dapat dinikmati oleh publik. Keberadaan ruang ekspresi budaya juga berkontribusi terhadap ekonomi masyarakat secara luas. Hal ini ditunjukkan dengan penciptaan peluang lapangan kerja dan peningkatan minat masyarakat untuk beraktivitas ekonomi di sekitar ruang ekspresi, meskipun belum cukup meningkatkan pendapatan seniman terutama seniman komunitas. Naskah ini merekomendasi penambahan ruang ekspresi yang inklusif dan berkelanjutan serta pemanfaatan ruang ekspresi digital untuk menjangkau masyarakat secara luas dan mendokumentasikan pertunjukan secara digital.</span></p> Arif Sofianto, Okki Chandra Ambarwati, Lita Febrian, Tri Susilowati, Moch. Lukluil Maknun, Dyah Susilawati Copyright (c) 2026 Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1516 Fri, 06 Mar 2026 01:26:03 +0000 MENGOPTIMALKAN TATA KELOLA SAMPAH DI BANYUMAS: Solusi bagi Jawa Tengah? https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1517 <p>Pada tahun 2022, Jawa Tengah tercatat sebagai penghasil sampah terbesar nasional dengan total timbulan 5,67 juta ton (16,03%). Tantangan utama tata kelola persampahan di wilayah ini meliputi identifikasi sumber timbulan, optimalisasi peran pemerintah dan swasta, serta partisipasi masyarakat. Berdasarkan keberhasilan Kabupaten Banyumas, faktor kunci dalam penanganan sampah adalah kolaborasi sinergis antara pemerintah daerah, <em>offtaker</em>, dan masyarakat. Untuk mereplikasi keberhasilan tersebut ke seluruh Jawa Tengah, diperlukan langkah strategis yang meliputi: evaluasi kebijakan, penyusunan cetak biru (<em>blueprint</em>) dan rencana aksi, perbaikan akurasi data, penguatan literasi 3R, peningkatan teknologi pengolahan, serta optimalisasi kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan CSR.</p> Arif Sofianto, Tri Risandewi, Setyo Aji Wijayanto, Dimas Pamungkas Pradoto, Izza Mafruhah , Tri Susilowati Copyright (c) 2026 Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1517 Fri, 06 Mar 2026 01:28:16 +0000 PERAN PRODUSEN LOKAL DALAM MBG: Apakah Sekedar Penonton? https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1518 <p class="Default" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: windowtext;">Jawa Tengah memiliki potensi lokal pertanian dan peternakan yang dapat mendukung pemenuhan bahan baku Makan Bergizi Gratis (MBG), yang setidaknya akan dibangun 3.228 Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG) atau dapur MBG di Jawa Tengah. Namun, pemenuhan kebutuhan MBG dari bahan baku lokal belum tercapai karena tantangan harga, kuantitas, kualitas dan kontinuitas. Rantai pasok bahan baku cenderung mengikuti pola pasar yang berlaku, dimana SPPG dan <em>supplier</em> mengutamakan margin harga sesuai kualitas yang dipersyaratkan. Di sisi lain produsen lokal belum sepenuhnya mendapatkan tempat dalam program ini. Kapasitas produksi yang kecil dan terfragmentasi, kualitas yang kurang sesuai, kontinuitas yang belum tercapai, serta harga yang belum bersaing menyebabkan petani atau produsen lokal belum banyak berperan. Oleh sebab itu, terdapat beberapa rekomendasi yang ditawarkan berupa: 1) Pada sisi kebijakan perlu komitmen regulasi penggunaan bahan lokal; sistem data; pengawasan rantai pasok; serta integrasi dengan program lain; 2) Pada ranah produksi perlu dibentuk klaster produksi dan korporasi petani terintegrasi; kontrak petani dan SPPG; pelatihan dan pendampingan; pembiayaan; inovasi <em>food processing</em>; 3) Pada sisi distribusi diperlukan pengembangan pusat logistik pangan daerah; sistem <em>e-logistics</em> dan <em>tracking supply chain</em>; sistem jadwal; dan kemitraan; 4) Pada sisi hilir perlu dibangun sistem informasi kebutuhan bahan; fasilitas pengolahan dan pelatihan SDM; menu memperhatikan kearifan lokal dan potensi bahan baku.</span></p> Okki Chandra Ambarwati, Arif Sofianto, Herlina Kurniawati, Tri Risandewi, Dimas Pamungkas Pradoto, Sri Sumarni, Tri Nugraha Aji Pamungkas, Izza Mafruhah, Nurul Istiqomah, Dewi Ismoyowati, Hendrika Ayuliani Muntiyas, Himas Arum Syarifah, Lazib Ajibta Kurniawan Copyright (c) 2026 Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1518 Fri, 06 Mar 2026 00:00:00 +0000 BAGAIMANA MEWUJUDKAN PERAN SEKTOR PERIKANAN UNTUK KETAHANAN PANGAN? Aspek Rantai Pasok Hilir Perikanan Tangkap https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1519 <p class="Default" style="text-align: justify; text-indent: 1.0cm;"><span lang="EN-US" style="font-size: 11.0pt; font-family: 'Arial',sans-serif; color: windowtext;">Jawa Tengah memiliki potensi perikanan tangkap yang cukup besar, dimana produksi menduduki peringkat 2 se Indonesia dan menjadi salahsatu penopang ketahanan pangan. Namun di sisi hilir terdapat berbagai persoalan dari aspek tata Kelola, distribusi, dan pemasaran. Beberapa isu yang mengemuka antara lain keterbatasan rantai dingin, mutu dan keamanan, penjualan dalam bentuk mentah, ketergantungan nelayan pada tengkulak, serta rendahnya konsumsi ikan. Analisis <em>Supply Chain Operations Reference</em> (SCOR) menunjukkan bahwa struktur rantai pasok telah terbentuk secara fungsional. Kekuatan utama rantai pasok terletak pada efisiensi biaya dan pemanfaatan aset, sedangkan kelemahan menonjol pada keandalan pemenuhan pesanan, kecepatan respons distribusi, jaminan mutu dan keamanan produk, serta keterbatasan fasilitas rantai dingin dan sertifikasi kelayakan pengolahan di banyak Unit Pengolahan Ikan. Aliran produk belum sepenuhnya mendukung ketersediaan ikan segar yang stabil, terjangkau, dan merata karena terkendala hambatan logistik, ketimpangan infrastruktur, dan lemahnya integrasi informasi. Perbaikan ketepatan waktu, penurunan kehilangan pascapanen, peningkatan kapasitas pengolahan, peningkatan standar mutu, penerapan GMP, dan penguatan sistem <em>traceability</em> berkontribusi terhadap ketahanan pangan. Strategi yang diperlukan untuk perbaikan meliputi penguatan infrastruktur TPI dan rantai dingin, pengembangan sistem informasi pasar terintegrasi, penguatan kelembagaan nelayan dan pelaku pengolahan, serta penyusunan kebijakan hilirisasi yang sejalan dengan agenda ketahanan pangan daerah.</span></p> Lita Febrian, Eny Hari Widowati , Setyo Aji Wijayanto, Citra Permatasari , Arif Sofianto, Komalawati Komalawati, A. Suhaeli Fahmi Copyright (c) 2026 Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1519 Fri, 06 Mar 2026 03:20:18 +0000 PERLUKAH KEDUNGSEPUR PUNYA NAHKODA? Mengubah Potensi menjadi Kekuatan Kolektif, dari Forum Simbolis menuju Tata Kelola Nyata https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1520 <p>Wilayah Pengembangan (WP) Kedungsepur merupakan kawasan strategis Jawa Tengah dengan Kota Semarang sebagai simpul utama logistik dan jasa. Namun, pertumbuhan masih terpusat di kota inti, sementara daerah hinterland seperti Kendal, Demak, Grobogan, Kabupaten Semarang, dan Kota Salatiga belum berperan optimal dalam rantai pasok kawasan. Permasalahan utamanya adalah kelembagaan yang lemah. Sekretariat Bersama yang ada bersifat pasif, koordinasi antar daerah berjalan informal, dan tidak ada mekanisme pembiayaan bersama. Akibatnya, potensi industri, pertanian, dan pariwisata lintas wilayah tidak terintegrasi menjadi kekuatan kolektif. Hasil analisis menegaskan bahwa meskipun manfaat kolaborasi diakui tinggi, ketiadaan lembaga formal yang aktif, inklusif, dan profesional membuat kerja sama kawasan tidak berkelanjutan. Sebagai solusi, direkomendasikan pembentukan kelembagaan bertahap: Tahap 1 (2026) memperkuat Sekber sebagai forum koordinasi resmi; Tahap 2 mentransformasikannya menjadi SPWP sebagai lembaga operasional lintas wilayah; dan Tahap 3 mengkonsolidasikan serta mereplikasi SPWP sebagai model tata kelola kolaboratif dan berbasis kinerja di Jawa Tengah.</p> Arif Sofianto, Tri Susilowati , Tri Risandewi, Setyo Aji Wijayanto, Holi Bina Wijaya , M. Indra Hadi Wijaya, Kanindya Nooringsih Copyright (c) 2026 Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1520 Fri, 06 Mar 2026 03:22:28 +0000 SEKOLAH GRATIS BUKAN TANPA PARTISIPASI: Menata Ulang Peran Masyarakat dalam Pembiayaan Pendidikan yang Legal https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1521 <p>Kebijakan sekolah gratis di Jawa Tengah pada jenjang SMA/SMK telah membuka akses pendidikan yang lebih luas, namun menimbulkan persoalan baru dalam hal pembiayaan dan persepsi publik. Di satu sisi, keterbatasan anggaran daerah membuat sekolah sulit memenuhi standar mutu layanan, di sisi lain, masyarakat sering menyalahartikan konsep “sekolah gratis” sebagai ketiadaan kontribusi sama sekali, sehingga muncul resistensi terhadap partisipasi sukarela. Peraturan Gubernur Jawa Tengah No. 12 Tahun 2017 telah memberi ruang partisipasi masyarakat secara sukarela, transparan, dan akuntabel. Namun, implementasinya masih lemah karena sekolah khawatir dianggap melakukan pungutan liar. Persoalan semakin kompleks ketika praktik sumbangan kadang dihubungkan dengan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB. Komite sekolah sesuai Permendikbud No. 75 Tahun 2016 memiliki peran strategis sebagai jembatan antara sekolah dan masyarakat, tetapi fungsi ini belum optimal. Revitalisasi komite sangat penting agar dapat mengawasi tata kelola dana, memperkuat transparansi, serta memastikan partisipasi publik berjalan adil dan inklusif. <em>Policy brief</em> ini merekomendasikan empat langkah kunci: (1) memperkuat implementasi Pergub Jateng No. 12/2017, (2) melarang sumbangan pendidikan saat PPDB, (3) revitalisasi komite sekolah sesuai Permendikbud 75/2016, dan (4) meluruskan persepsi publik tentang sekolah gratis. Dengan strategi komunikasi, regulasi, dan pengawasan yang tepat, partisipasi masyarakat dapat menjadi kekuatan besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan menengah di Jawa Tengah tanpa melanggar prinsip keadilan akses.</p> Arif Sofianto, Edi Wahyono , Tri Risandewi, Tri Susilowati, Harjono Harjono, Dimas Gilang Ramadhani Copyright (c) 2026 Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1521 Fri, 06 Mar 2026 00:00:00 +0000 BAGAIMANA P3DN JAWA TENGAH DIPERKUAT? Strategi Terintegrasi Demand-Supply-Market https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1522 <p>Penggunaan Produk Dalam Negeri (PDN) dalam pengadaan pemerintah di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan dinamika yang kompleks antara komitmen kebijakan dan implementasi operasional. Data per 28 September 2025 menunjukkan bahwa komitmen belanja PDN mencapai 94,25%, hampir memenuhi batas minimal 95% sebagaimana diamanatkan Inpres No. 2 Tahun 2022, namun realisasi belanja PDN baru mencapai 30,72% pada Triwulan III. Ketimpangan ini mengindikasikan bahwa komitmen normatif belum sepenuhnya terdistribusi sebagai praktik pengadaan yang efektif di tingkat perangkat daerah. Pada aspek&nbsp;<em>demand</em>, ketidaksesuaian kebutuhan pengadaan dengan spesifikasi produk TKDN tersedia menjadi faktor penghambat utama. Pada aspek&nbsp;<em>supply</em>, meskipun ekosistem penyedia lokal cukup besar ditunjukkan oleh 639.957 produk tayang di marketplace Blangkon Jateng dan 17.211 penyedia terdaftar, kapasitas pelaku industri lokal masih belum optimal, tercermin dari realisasi belanja UMK yang hanya 28,14% meskipun komitmen telah mencapai 79,30%. Pada aspek&nbsp;<em>market</em>, kesenjangan antara kebutuhan spesifikasi barang/jasa pemerintah dan kapasitas substitusi produk lokal memperlihatkan belum terbangunnya konektivitas rantai pasok daerah. Beberapa kebijakan diperlukan untuk menjembatani kesenjangan ini melalui penguatan bertahap pada aspek <em>demand–supply–market</em>, mencakup konsolidasi perencanaan, peningkatan kapasitas sertifikasi dan produksi pelaku industri, serta penguatan ekosistem pasar melalui business matching dan integrasi data lintas sektor. Pendekatan terstruktur ini ditujukan untuk mempercepat kemandirian industri daerah sekaligus mendukung agenda nasional percepatan penggunaan produk dalam negeri.</p> Arif Sofianto, Tri Risandewi, Setyo Aji Wijayanto, Tri Susilowati, Sandy Arief, Lyna Latifah, Anis Susanti Copyright (c) 2026 Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1522 Fri, 06 Mar 2026 03:26:21 +0000 EKONOMI KREATIF DI JAWA TENGAH Bagaimana Pola Sinergi dan Strategi Kolaborasi Stakeholder? https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1523 <p>Pengembangan ekonomi kreatif memiliki dua agenda besar yaitu pengembangan 17 sub sektor ekonomi kreatif dan pengembangan ekosistem pendukungnya. Kedua agenda ini merupakan tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana amanah UU No. 24 Tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif. Namun, implementasi kebijakan ekonomi kreatif di daerah terkendala minimnya kapasitas kewenangan dan sumber daya yang dimiliki pemerintah daerahImplikasinya, pengembangan ekonomi kreatif kurang efektif jika hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah saja. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menetapkan Perda No 5 Tahun 2021 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif serta Pergub No 26 Tahun 2024 tentang pelaksanaan Perda telah merumuskan kebijakan pengembangan ekosistem ekonomi kreatif daerah akan efektif jika dilakukan dengan pendekatan kolaboratif dan sinergi multi aktor, multi sektor, multi peran, multi akuntabilitas. Hasil kajian BRIDA Jawa Tengah (2025) menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif Jawa Tengah sebaiknya dilakukan dengan pendekatan kolaboratif dan sinergi yang melibatkan aktor pemerintah &nbsp;daerah dan pusat dan lembaga non struktural serta keterlibatan aktor non pemerintah meliputi akademisi, bisnis, komunitas, media, lembaga keuangan dan NGO/LSM dalam skema kolaborasi <em>octahelix. </em>Komite Ekonomi Kreatif Jawa Tengah berperan sebagai orkestrator kolaborasi dan sinergi multi aktor.</p> Arif Sofianto, Tri Risandewi, Tri Susilowati, Setyo Aji Wijayanto, Bambang Supradono Copyright (c) 2026 Analisis Kebijakan Daerah https://ejournal.jatengprov.go.id/index.php/AKD/article/view/1523 Fri, 06 Mar 2026 03:28:03 +0000